sinopsis dan review film - film terbaik

BOY AND THE WORLD [2013]


Masih ingatkah Anda dengan “The Little Prince” yang dirilis tahun lalu? Itu adalah film animasi Prancis yang berpremis bahwa hidup adalah sebuah wahana realita yang kejam. Sedari kecil, manusia memiliki banyak cita-cita dan angan yang tinggi. Masa kecil pula adalah masa yang indah penuh akan imajinasi. Tapi terkadang, hidup tidak berjalan mulus seperti bayangan di saat kanak-kanak. Saat dewasa itulah, hidup yang sesungguhnya kita hadapi.

“Boy and The World,” film animasi Brazil arahan Alê Abreu ini juga bertutur hal serupa. Fokus utamanya terdapat pada karakter seorang bocah yang kehilangan sosok seorang ayah. Kehilangan yang saya maksud di sini adalah kepergiannya ke suatu tempat, tanpa tahu ke mana arahnya. 

Sebelumnya, Si Bocah (Vinicius Garcia) tinggal bertiga dengan damai beserta orang tuanya (Ayah: Marco Aurelio Campo & Ibu: Lu Horta). Setiap hal di sekitarnya, wujudnya, suaranya, adalah anugerah yang selalu ia rasakan. Seperti layaknya anak seumurannya, imajinasinya selalu membumbung tinggi. Yang ada hanyalah kesenangan. Bagian ini akan membuat Anda benar-benar merindukan masa kecil.

Suatu ketika, Si Ayah harus pergi karena pekerjaan. Si Bocah merasa kehilangan. Dikejarlah Si Ayah yang tengah naik kereta api; yang menurutnya seperti seekor ular karena daya imajinasi. Perjalanan Si Bocah yang penuh bahaya namun bermakna pun dimulai.

Tidak ada satu pun clueyang menuntun pada jawaban Si Ayah berada. Sejatinya, petualangan tersebut adalah babak baru Si Bocah melewati masa-masa transisi menjadi dewasa. Yaitu masa di mana hidup tak lagi seindah bayangan. Segala tantangan hidup menanti.

“Boy and The World” adalah film yang bertutur tanpa narasi. Kita bisa mengikutinya hanya dengan keindahan tata visual dan audio yang disuguhkan. Pada bagian inilah, bagian audionya sangat diunggulkan. Kita akan melihat dunia ini melalui sudut pandang si Bocah. Kita belajar menjadi pendengar dan mengidentifikasinya. Serta melihat isi dunia ini dalam wujud imajinasinya.

Alê Abreu cukup subtle dalam mengisahkan “Boy and The World.” Ini bukan animasi tontonan anak-anak yang mudah untuk dipahami. Meski begitu, saya yakin visualnya tetap mampu membius. Alê Abreu tidak hanya menyelipkan soal fase manusia dalam menghadapi realita kejamnya dunia. Tapi ia juga membubuhkan pesan moral mengenai lingkungan. Dampak dari modernitas, industrialisasi, penebangan liar, dsb.

Tak lupa, keadaan masyarakat Brazil secara umum juga dipaparkan di sini. Dari film ini, saya belajar mengenai kondisi masyarakat Brazil yang sebagian besarnya dihuni masyarakat kelas menengah ke bawah. Dengan kata lain, kebanyakan mereka adalah para pekerja kasar. Mereka menggantungkan hidup menjadi buruh pemetik kapas.

Zaman pun berubah. Dunia menuntut konsumsi yang lebih besar dan lebih cepat. Era industrialisasi telah dimulai. Tangan-tangan tenaga kerja yang terampil pun seketika diubah menjadi mesin. Pengangguran pun semakin meningkat. Akibat dari didirikannya pabrik-pabrik modern, pencemaran udara serta limbah telah mengotori dunia. Inilah dunia yang kini dilihat oleh Si Bocah. Dunia yang tak lagi bersahabat. Menyedihkan!

“Boy and The World” bukan hanya sajian yang indah dari tampilannya. Ini juga diteguhkan lewat substansi cerita yang masih relevan dengan keadaan sekarang ini. Rasa penasaran, bahagia, sedih, rindu, semuanya dikemas menjadi satu. Saya berani menjamin, film ini akan kembali menggali memori-memori indah Anda saat masih kecil. Di satu sisi, pikiran Anda akan terbelalak pada realita yang kini tengah Anda alami. 

Di sini saya tidak mengatakan bahwa setiap insan menghadapi masa depan yang suram. Ini hanya menegaskan bahwasanya perjalanan hidup tidak selalu sama dengan yang dibayangkan. Semua kembali ke tiap individu untuk mengambil nilai-nilainya. Saya percaya, di balik kesulitan selalu ada secercah kebahagian lewat kenangan manis.

Share this article :
+
Previous
Next Post »