sinopsis dan review film - film terbaik

THE HATEFUL EIGHT [2015]

Melanjutkan spaghetti-western terakhir yang dibuat oleh Quentin Tarantino, “Django Unchained” (2012), kini ia kembali membuat genre yang sama. Memang tidak butuh rentang waktu yang lama ia kembali ke medan perfilman setelah menghadirkan western yang begitu bagusnya. Ini adalah film kedelapan Quentin Tarantino sekaligus mewakili judulnya yang mengandung unsur “delapan”. Setelah menontonnya, Anda juga akan menemukan beberapa kata dalam dialog-dialognya yang menyenggol angka delapan. Kecintaan Tarantino pada film-film western terbukti membawa senyawa itu pada “The Hateful Eight” bahkan di beberapa bagian detil sekali pun. Seperti font di opening yang tampak klasik dan khas western (Anda juga akan menemukannya di “Django”). Robert Richardson, sinematografer  rutin Tarantino khususnya pada tiga film sebelum ini, mengambil gambarnya dengan aspek rasio 2 : 76 : 1; membuatnya tampak begitu lebar seperti dalam western klasik.

“The Hateful Eight” mengambil seting pasca civil war dan terbagi menjadi enam chapter. Bagian pertama berjudul “Last Stage to Red Rock”. Mayor Marquis Warren (Samuel L. Jackson), seorang pemburu hadiah, akan memindahkan tiga mayat menuju kota bernama Red Rock. Dalam perjalanan, ia menumpang sebuah stagecoachyang di dalamnya ada John Ruth (Kurt Russell), sama-sama menuju Red Rock dan akan menggantung tawanan wanita, Daisy Domergue (Jennifer Jason Leigh). Bagian berikutnya, seorang calon sheriffyang juga menuju Red Rock untuk penobatannya, Chris Mannix (Walton Goggins), ikut juga dalam rombongan tersebut. Sampailah mereka pada penginapan “Minnie’s Haberdashery” sembari melindungi diri dari badai salju. Di sana empat orang telah menunggu.

Saya akan perkenalkan siapa saja mereka yang ada dalam penginapan kepada Anda. Pertama adalah Oswaldo Mobray (Tim Roth), seorang hangman daerah Red Rock seperti John Ruth. Berikutnya ada Joe Gage (Michael Madsen), seorang koboi. Kemudian ada pria tua yang hanya duduk di kursi, Jendral Sanford Smithers (Bruce Dern). Terakhir adalah seorang pria Meksiko bernama Bob (Demián Bichir). Kesemuanya memiliki julukan masing-masing, seperti “The Bounty Hunter”, “The Hangman”, “The Prisoner”, dan lain-lain. Jumlahnya lengkap delapan, seperti dalam judulnya. Namun tidak termasuk O.B. (James Parks), karena ia hanya bertugas sebagai kusir stagecoachmengantarkan John Ruth. Mudahnya saja, ia yang paling normal dari delapan lainnya. Oleh karena itu, dapat kita asumsikan ia bukan bagian dari “delapan” yang paling menonjol.  

Coba Anda perhatikan lebih teliti pada posternya, di sana tertera nama Channing Tatum. Tapi dengan memerhatikan kedelapan foto karakter utama, jelas saja Chaning Tatung bukan termasuk bagian tersebut. Kemunculannya akan memberikan Anda kejutan. Sekali lagi, ini adalah bagian dari kecerdikan seorang Tarantino dalam menunjukkan ‘kenyelenehan’ nan uniknya pada tiap film garapannya. Dalam “The Hateful Eight”, Tarantino masih memakai beberapa regular cast yang kerap juga muncul pada setiap film yang diarahkannya. Lihat saja di sana ada Samuel L. Jackson yang selalu tampil badassdi bawah naungannya, sekaligus memainkan karakter paling menarik di sini. Ada pula Tim Roth dan Michael Madsen, keduanya juga muncul bersama dalam karya debut Tarantino, “Reservoir Dogs” (1992). 

Membandingkan “The Hateful Eight” dengan western lainnya, ada kekontrasan tajam yang muncul. Umumnya, kita melihat western identik dengan midwestyang panas dan gersang. Namun dalam film ini, kita tidak akan menjumpainya. Sebagian besarnya kita akan menyaksikan badai salju yang menyeliputi Wyoming. Secara keseluruhan, “The Hateful Eight” mengambil dua set lokasi. Pertama ada di dalam stagecoach, sisanya dalam penginapan dimulai sejak bagian ketiga. Semua ini memang termasuk wajar bila kita memahami dengan baik sisi unik dari pengarahan seorang Tarantino. Dialog yang panjang dalam sebuah satu set lokasi adalah salah satu ciri khasnya. Saya ambilkan contoh dalam “Kill Bill vol. 2”; dimana ada percakapan panjang antara Bill dengan Beatrix Kiddo dalam sebuah gereja.

“The Hateful Eight” adalah film yang lucu karena kental akan komedi hitamnya. Tarantino memang pakar akan hal ini. Soal adu tembak yang menjadi keharusan dalam western sudah pastilah ada di sini. Tapi, Anda perlu bersabar sampai kira-kira satu jam tiga puluh lima menit hingga suara tembakan terdengar. Sebelum itu, “T.H.E.” lebih banyak diisi dengan dialog percakapan sekaligus upaya Tarantino memperkuat tiap karakternya dengan baik sebelum kemudian ia memberikan hentakan dan kejutan-kejutan menarik menuju klimaks. Demi meningkatkan performa di bagian aksi, Tarantino menggandeng ahli praktikal efek Greg Nicotero yang dikenal dalam serial tv “The Walking Dead”. Hasilnya memang memuaskan dengan peminimalisiran CGI; lebih realitistis. Namun jika Anda ingin membandingkannya, kuantitasnya memang tidak sebanyak “Django”. 

Ada seorang kritikus film yang memberikan penilaian negativ pada film terbaru Tarantino ini. Hal itu terkait misogyny pada karakter Daisy Domergue. Ia adalah satu-satunya karakter wanita di antara “delapan” dan mendapat kekerasan paling parah di sepanjang film. Kekerasaan tersebut meliputi caci maki, pukulan, hingga muntahan darah di wajahnya. Jelas saja ini berlawanan dengan feminisme yang saya apresiasikan pada film “Bāhubali : The Beginning” kemarin. Sekilas, saya memang melihat misogyny begitu kentara pada karakter Daisy. Tapi kembali lagi, saya ingin membuat pikiran lebih cleardengan membela Tarantino bahwa apa yang ia tunjukkan di sini adalah salah satu keunikannya. Untuk jawaban mudahnya, Daisy Domergue adalah bagian dari twist karakter.

Share this article :
+
Previous
Next Post »